JARUM jam menunjukkan tepat pukul 08.00 WIB. Satu persatu Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mengabdi di Pemerintah Kota Bukittinggi muncul di Balaikota yang berada di kawasan Gulai Bancah tersebut.
Hal itu, tentunya bukan sebuah hal yang aneh. Sebab, sebagai aparat negara, tentunya dedikasi dan profesionalitas harus ditunjukkan atas sesuatu yang mereka dapatkan setiap bulannya.
Bekerja dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB sebagaimana ketentuan yang telah ditetapkan melalui peraturan adalah sebuah hal wajib yang tak bisa mereka langgar.
Kali ini, kita tak hendak membicarakan kerja, kinerja dan apalah namanya yang menjadi tugas pokok dan fungsi ASN sebagai aparatur negara.
Akan tetapi berbicara tentang “ASN tukang” yang juga mencari nafkah di istana negara Kota Bukittinggi tersebut.
Kenapa ditulis ASN “tukang” karena sebagai pekerja informal, mereka bak menjalani misi pula sebagai aparat negara.
Sebagaimana ASN, mereka juga datang pukul 08.00 WIB dan langsung bekerja dengan segenap keahlian yang dimilikinya.
Jika ASN langsung melaksanakan segala macam rencana kerja yang telah disusun sebelumnya di meja kerja masing-masing.
Pun demikian dengan “ASN tukang” ini. Bedanya, saat mereka bekerja, maka suara bising nan memekakkan telinga langsung berkumandang dengan gegap gempita.
Suara concrete breaker, menggema ke seantero ruangan yang ada di Balaikota Bukittinggi mulai dari pukul 08.00 WIB hingga jam pulang ASN.
Rehab atau renovasi kamar kecil yang mereka lakukan, pastinya dibutuhkan.