Delegasi IMLF dari 11 Negara Kunjungi Padang Panjang

PADANG PANJANG — Perwakilan dari delegasi beserta peserta International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) 2023 kunjungi Kota Padang Panjang, Kamis (22/2/2023).

Kunjungan tersebut bertempat di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) Kota Padang Panjang yang disambut Sekretaris Daerah Kota (Sekdako), Sonny Budaya Putra, A.P, M.Si beserta asisten, staf ahli dan OPD.

Sekdako Sonny menyambut baik atas terlaksananya IMLF ini. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada panitia yang telah memilih Padang Panjang sebagai salah satu tempat kunjungan.

Sonny berharap mudah-mudahan kegiatan IMLF dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. “IMLF ini tentu menjadi salah satu momen penting dalam literasi budaya Minangkabau itu sendiri,” ucapnya.

Ketua Panitia IMLF, Dra. Hj. Sastri Yunizarti Bakri, Akt, M.Si, CA, QIA menjelaskan IMLF diselenggarakan 22-27 Februari 2023 oleh Satu Pena yang didukung Sumbar Talenta dan pihak lainnya. Acara ini bermaksud merajut sinergi antara bangsa dalam membangun tatanan dunia baru melalui gerakan literasi berskala dunia.

Sastri menyebutkan, peserta IMLF antara lain dari Komunitas Satu Pena seluruh Indonesia, sastrawan, budayawan, seniman dari berbagai negara, profesional terkait literasi, seperti dosen, guru, pustakawan, arsiparis, sejarawan, filolog dan lain-lain. Lalu, lenggiat literasi, seperti pengelola rumah baca, taman bacaan masyarakat, dan sejenisnya, penerbit dan pengelola media, aparatur sipil negara yang mengemban jabatan struktural dan fungsional terkait literasi.

“Delegasi dari negara asing yang hadir di antaranya Australia, Belanda, Brunei Darussalam, China, Kamboja, Malaysia, Thailand, Singapura, Spanyol, Argentina dan India. Kegiatan IMLF juga melibatkan siswa, mahasiswa, sekolah dan komunitas lainnya,” kata Sastri.

Kegiatan selama festival mencakup seminar, diskusi panel, workshop mengenai menulis akademik dan menulis kreatif, pameran literasi dan pameran buku, pertunjukan kebudayaan dan bazar makanan dan pertunjukan kesenian.

Kegiatan tersebut, lanjut Sastri, bertujuan antara lain, meningkatkan budaya literasi yang semakin kompleks di era 4.0. Saling berbagi wawasan, ilmu pengetahuan, dan pengalaman terkait dunia literasi dalam berbagai aspek pendidikan, kesenian, kebudayaan dan ekonomi kreatif. Serta mempromosikan dan mengenal lingkungan Minangkabau dan objek wisata Sumbar yang semakin berkembang ke internasional

“Target kita yaitu untuk menumbuhkembangkan kecakapan literasi dalam interaksi global menuju tatanan dunia baru yang telah menembus batas negara. Menumbuhkembangkan kecakapan sosio-kultural dalam membangun kesalingpahaman dan integritas diri sebagai penduduk dunia baru. Mempromosikan dan mengenal lingkungan Minangkabau dan objek wisata Sumbar yang semakin berkembang,” kata Sastri.

Ditambahkannya, kegiatan dilakukan merupakan terobosan serta meningkatkan daya minat berliterasi diinisiasi organisasi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Satu Pena Sumatera Barat dan Sumbar Talenta Indonesia Foundation, didukung Kemendagri dan Pemerintah Provinsi Sumbar.

“Salah satu topik bahasan dalam event Internasional Minangkabau Literacy Festival (IMLF) adalah membahas tentang literasi budaya Minangkabau, dalam perspektif sejarah, sekarang dan akan datang,” tambahnya.

Sementara itu, perwakilan felegasi IMLF, Prof. David Reeve dari Australia menyebutkan, ini merupakan kali keduanya datang ke Sumbar khususnya ke Kota Padang Panjang setelah pertama kali pada 1985 atau 38 tahun yang lalu.

David juga menyebutkan, dirinya sangat terkesan dengan Sumatera Barat khususnya dengan keindahan alam serta adat istiadat yang kaya dan kompleks.

“Kecintaan saya terhadap Sumbar saya tuangkan dalam bentuk buku. Tetapi tidak membahas adat istiadat maupun alamnya. Yang saya bahas tentang angkot Padang dan bis Minangkabau,” kata David.

Ia mengungkapkan dirinya memilih tema angkot Padang dan bis Minangkabau lantaran memiliki dekorasi yang unik pada dindingnya, simbol beserta gambarnya dan bahasanya.

“Dari sini saya melihat simbol-simbol budaya populer. Jadi buku saya itu adalah angkot dan bis Minangkabau nilai nilai budaya populer. Jadi kalau ada yang ingin melihat atau membaca buku saya silahkan datang ke pameran buku di Bukittinggi. Tidak perlu dibeli kalau sempat curi saja, yang penting punya,” ungkapnya sambil tertawa.

David juga mengucapkan terima kasih kepada Sumbar dan Padang Panjang khususnya yang telah menjadi sumber inspirasi untuk karya saya. “Thank you very much,” tutupnya. (rls/pdp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *