Stasiun Kereta Api Fort de Kock, Nasibmu Kini !

‎Oleh : Zulhamdi Nova Candra IB Pangulu Alam *

KENAL dengan Lambung Station yang berada di Jalan Sudirman atau tepatnya di bekas Stasiun Kereta Api Bukittinggi?

Sebutan bukanlah tanpa alasan, sebab daerah tersebut memang dikenal dengan sebutan Stasiun.

‎Setelah adanya penggusuran pemukiman yang menyesaki area tersebut, pada tahun 2017 lalu, kawasan tersebut pada tahun 2023 dibangun pusat kuliner yang diresmikan pada 6 Maret 2024.

‎Sehubungan dengan kebijakan efisiensi daerah serta outputnya yang jauh dari ekpektasi, maka terhitung di penghujung Mei 2025, Pasar Kuliner Stasiun Lambuang yang diklaim terbesar di Sumatera Barat itu, resmi ditutup.

‎Terlepas dari hal tersebut di atas yang merupakan domain dari para pengambil kebijakan (dececion maker) yang ada di Kota Bukittinggi, mari kita secara spesifik berbicara tentang Stasiun Bukittinggi.

Baca Juga:  LaNyalla Dorong Kesadaran Kolektif untuk Kembali ke Pancasila sebagai Norma Hukum Tertinggi

‎Sejenak kita lupakan tentang Lambung Station yang setahun terakhir cukup menggema di benak penyuka kuliner khas dari Kota Triarga tersebut.

‎Area Lambung Station, dahulunya dikenal sebagai Stasiun Fort de Kock atau Stasiun Boekit Tinggi.

‎Stasiun yang pada masanya sempat menjadi stasiun utama di jantung Sumatera Barat itu, berada di kawasan Tangah Sawah, tepatnya di Tarok Dipo, Kecamatan Guguak Panjang.

‎Stasiun Fort de Kock sendiri adalah stasiun kereta api nonaktif kelas II yang berada di ketinggian +920 meter dan pengelolaannya termasuk dalam Divisi Regional II Sumatera Barat.

‎Spesifikasi Stasiun Bukittinggi: 

‎- Lokasi :  Jalan Muhammad Syafei 7 Tarok Dipo, Guguk Panjang, Bukittinggi, Sumatera Barat

Related Posts